Sabtu, 01 Juni 2013

Cerpen sudut pandang orang ketiga

"Halte Bus Tua" Cerpen sudut pandang orang ketiga


Angin sepoi-sepoi membelai lembut tubuh gadis mungil yang berdiri di sebuah halte bus tua. Gadis itu sedang menunggu,menunggu

seseorang yang ia cintai. Kenangan itu muncul seakan seperti film pendek yang muncul dalam pikirannya.
***
            “Ayah! Mau kemana?” Tanya Kirana kecil
            “Ayah mau kerja. Kamu tunggu di rumah aja yah” Jawab ayahnya lembut. Kirana hanya mengangguk kecil. Ia menatap ibunya yang

terbaring sakit.
Selama ayahnya pergi bekerja, Kirana yang merawat wanita tua yang berbaring di atas tikar,itu ibunya. Kirana yang memberinya

makan,membereskan rumah,dan juga menjual kue-kue di sekitar rumah kecil mereka.
            “Ibu.. Beli kuenya bu seribu satu bu” Kirana menawarkan kue-kuenya kepada seorang ibu yang terlihat sedang menunggu bus.
            “Boleh deh.. tiga yah” Ibu itu menyerahkan tiga lembar seribuan.
            “Makasih bu..” Kirana tersenyum manis. Ia duduk di tempat paling pojok halte bus. Daganganya sudah habis,sekarang dia hanya akan

menunggu ayahnya pulang. Ayahnya akan pulang jam 4 sore dan akan berheti di halte bus tempatnya berjualan.
Ketika ayahnya sudah sampai di halte bus, begitu senangnya Kirana melihat ayahnya itu.
            “Ayo kita pulang” ayahnya mengajak Kirana pulang.
Sesampainya di rumah begitu kagetnya mereka melihat ibunya sudah tergeletak lemas di tikar. Ibunya sudah tak bernyawa lagi. Kirana tak

bisa menahan tangisnya, maka ia menangis. Ayahnya hanya dapat memeluk putrid kecilnya itu.
***
            Sejak kematian ibunya, Kirana semakin giat bekerja. Dia membantu para Ibu yang berbelanja di pasar dengan membawakan

belanjaanya. Kirana tetep menjual kue-kue kecilnya,bahkan semakin laris kue jualannya. Kegiatan rutin menunggu ayah pulang di halte bus

itu pun tetep berjalan. Ayahnya yang bekerja sebagai tukang bangunan bekerja dengan

supaya mendapat upah lebih. Cita-cita Kirana hanya satu, mempunyai toko kue. Ia ingin meneruskan mimpi ibunya. Namun,sekarang apakah

mimpi itu akan terwujud?Kirana hanya dapat bermimpi dengan keadaannya kekurangan ini.
***
            Tetes-tetes air turun dengan perlahan membasahi jalan. Sore itu,hanya suara hujan yang terdengar. Kirana menunggu kepulangan

ayahnya,namun tak ada tanda kedatangan ayahnya. Kemanakah ayah Kirana?
            “Ayah dimana?” batin Kirana. Tak biasanya ia menunggu hinga 2 jam di halte bus ini. Kirana pulang perasaan gundah. Semoga besok

pagi ia dapat melhat ayahnya tidur disampingnya. Semoga…
***
“Ayah! Ayah!” Suara Kirana memenuhi seluruh ruang kecil rumahnya. Tak ada jawaban. Tetes-tetes air mulai membasahi pipi Kirana. Kemana

ayahnya sebenarnya?
1 Minggu kemudian…
            Kirana tetap melakukan tugasnya. Memasak,membereskan rumah,dan berjualan. Jualannya semakin laku dengan adanya orang-

orang yang berlangganan. Setelah berjualan pun Kirana tetap menunggu ayahnya di halte bus tua itu.
            Namun,ketika sedang menunggu di halte bus tua itu seorang ibu menghampiranya.
            “Kirana?” Sura ibu itu begitu lembut
            “Eh.. yah bu? Maaf kuenya sudah habis” kata Kirana sambil melihat kea rah bakulnya yang kosong.
            “Oh.. Ibu bukan mau beli kue kok,nak. Ibu bisa ngobrol sebentar sama kamu?” Ibu itu menepuk pundak Kirana lembut
            “Oh.. bisa bu, ada apa?” Kirana siap mendengarkan cerita si ibu.
            “Hmm.. Ibu mau kasih modal ke kamu, modal ini nantinya akan kamu gunakan untuk membeli ruko dan membeli peralatan buat kamu

masak kue. Intinya,kamu buka toko” Ibu itu memberi seulas senyum. Kirana hanya melongo mendengar penjelasan ibu itu.
            “Tapi bu.. saya nggak bisa menggatikan modal yang ibu beri” Kiran menunduk lemas
            “Ahh.. masalah itu,kamu dapat mengganti modalnya nanti setelah mendapat untung dari penjualan roti mu itu, nak. Bagaimana?” Ibu

itu begitu bersemangat.
            “Hmm.. Ibu yakin?”
            “Ya.. Saya yakin,karena kamu anak yang baik” Ibu itu memeluk Kirana.
***
            Kirana melirik halte bus tua di depan toko kuenya. Kakinya berjalan perlahan kearah halte bus tua yang sepi. Kirana duduk di

tempat duduk panjang yang sudah berkarat. Kini ia merindukan tugasnya yang masih berjualan dengan bakul yang di buat ibunya. Tak

terasa tetes air mata turun membasahi pipinya. Tak lupa juga tugas terpentingnya,yang membuat ia menjadi seperti. Menunggu ayahnya

pulang.
            “Kirana menunggu mu ayah” batin Kirana. Kirana tak tahu bahwa ada seulas senyum bahagia yang ia tunggu dari atas sana, surga.





Sudut pandang : Orang ketiga terbatas
Alur : Foref 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar