Sabtu, 08 Juni 2013

Langkah-langkah untuk Jadi Dewasa

Langkah-langkah untuk Jadi Dewasa


Apakah kita sudah dewasa ? dengan melihat umur mungkin sudah namun dalam berperilaku justeru tidak sesuai dengan kenyataan dan terkadang umur kita sudah dewasa namun perilaku kita masih anak-anak. Raja jempol mencoba memberikan tips bagaimana agar dewasa sebagai berikut :

LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENJADI DEWASA

Belajar adalah bagian dari kehidupan. setiap manusia berakal adalah pembelajar potensial, cakap dalam bertumbuh dan selalu tertarik dengan pengalaman dan pengetahuan baru. dengan belajar, setiap beradaptasi dan bertumbuh dalam aktivitasnya, akan mampu menjadi 'problem sorver' ketimbang 'problem speaker', lebih berfikir kreatif, lebih cakap dan percaya diri dalam hidupnya, meningkatkan keahlian pribadi, membuka peluang untuk sukses dalam menghadapi perubahan serta dapat membuat angan-angan menjadi kenyataan. sebagaimana sifat kehidupan, belajar adalah proses yang terus terjadi, tak boleh berhenti meski bertahap dan bertingkat.,br>Belajar dalah aktifitas dalam menemukan pengetahuan baru dan bersifat permanen. Pembelajaran adalah proses dalam mendorong dan memelihara pendidikan. Pembelajaran merupakan sebuah proses bertahap dan bertingkat dalam menyempurnakan keahlian, kesadaran dan kompetensi.

Menghargai perbedaan gaya dan cara belajar
Proses belajar tidak bisa dilakukan sendirian, tapi akan melibatkan banyak orang. Sehingga setiap pembelajar harus siap dengan perbedaan karakter, sikap, gaya dan cara belajar, yang diakibatkan oleh cara berfikir dan memandang masalah secara berbeda. setiap pembelajar juga harus siap terhadap konflik yang akan terjadi akibat adanya perbedaan tersebut.
Terdapat empat macam gaya belajar, sbb :

1. Penggerak (doer)
Menyukai pembicaraan singkat, praktis, tidak bertele-tele, langsung pada inti permasalahan. Mereka juga umumnya segera mengetahui umpan balik tentang cara dan hasil kerja mereka.

2. Pemikir (thinker)
Suka menyelidiki latar belakang pemikiran suatu tindakan yang akan atau sedang dikerjakan, serta apa tindakan yang akan menyertai atau akan dilakukan nantinya.

3. Perasa (feeler)
Sangat memperdulikan orang lain, sehingga untuk setiap tindakan mereka selalu ingin tahu dampaknya terhadap pikiran maupun perasaan orang lain, mereka ingin disenangi dan dihargai.

4. Penggagas (intuitor)
Selalu ingin tahu mengapa ? bagi mereka setiap tindakan merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mereka selalu mencoba mengaitkan antara suatu pekerjaan dengan hal-hal dan gagasan yang "wah !".

Walaupun setiap orang akan memiliki semua gaya, tetapi ada satu gaya yang dominan. Selanjutnya setiap gaya akan melahirkan cara belajar ini tidak untuk mengklasifikasikan orang dalam kotak-kotak yang berbeda. Lebih jauh dari itu, pemahaman tentang perbedaan gaya dan mengajarkan pengetahuan pada situasi dan kondisi yang berbeda.
Setiap orang, dengan gaya apapun, membutuhkan waktu dan ruang untuk belajar. Waktu belajar artinya belajar adalah proses penemuan pengetahuan baru yang hasilnya bersifat permanen. Sedangkan ruang, maksudnya setiap orang membutuhkan ruang untuk belajar, karena terkadang kita seringkali memisahakn aktivitas dengan proses belajar. Kebiasaan memisajkan ini sangat merusak dan akan membuat setiap orang tidak bebas dalam tumbuh dan berkembang. tantangan proses pembelajaran adalah bagaimana mengarahkan aktifitas rutin kita menjadi peluang pembelajaran seumur hidup.

Formulasikan rencana pembelajaran individu
Kadang kala sesuatu yang terbaik dikalahkan oleh yang baik. Kebahagiaan tercapai ketika kita menunda apa yang baik pada saat ini untuk mencapai yang terbaik dimasa mendatang.
Kita dapat memelihara fokus pembelajaran jika kita ingat untuk tetap berkonsentrasi kemasa depan, dan bukannya mengeluh tentang masa lalu yang seharusnya lebih baik.
Formulasi pembelajaran individu mencakup :,br>

1. Pendidikan.
Pelatihan dan ppengembangan keahlian apa yang harus dikuasai agar 'celah' pengetahuan dapat dikurangi, atau ditutpi.

2. Pengalaman
Tugas dan pekerjaan apa yang dapat mengasah dan menajamkan bakat dan spesialisasi.

3. Tanggung jawab
Tanggung jawab dan peran apa yang seharusnya dilaksanakan untuk membuat kedewasaan dan penguasaan diri meningkat.

4. Peluang
Sumberdaya dan peluang apa saja yang dapat dimanfaatkan dalam setiap tinkatan lingkungan agar dapat merubahnya menjadi aktivitas yang bermanfa'at.

Membangun proses mentoring
Seringkali kita lebih mudah untuk memenuhi janji kepada orang lain ketimbang kepada diri sendiri. Oleh karena itu proses pembelajaran sangat dipengaruhi pula oleh bagaimana kita melibatkan orang lain, untuk bersama-sama terlibat dalam 'spiral' pembelajarn, untuk bertumbuh dan berkembang. Proses pembelajaran menjadi dampak dan menulari orang-orang sekitar dan menjadikannya komponen lingkungan yang menumbuhkankembangkan. Salah satu model interaksi yang dapat mengakomodasi dengan baik proses 'spiral' pembelajaran ini adalah kegiatan mentoring. Sebuah interaksi antar pemikiran, perilaku dan kebiasaan untuk membina hubungan yang mencegah terhambatnya pertumbuhan psikologis individu. Mentoring melibatkan seorang mentor, pembelajar sejati yang dapat mengajarkan prinsip dan hakikat nilai kehidupan, berbagi pengalaman dan bagaimana menyikapinya, serta menandai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima. Sekali saja proses mentoring ini dilakukan, maka bersiaplah untuk memelihara dan mengawasi kemungkinan perbedaan dan perpecahan. Setiap orang tumbuh didalmnya, mungkin saja menyembunyikan konflik, dan bahkan timbul kecemburuan kesuksesan dan kompetissi yang membuat ketidakyamanan dalam berinteraksi. Proses mentoring menjadi laboratrium tempat orang terpacu untuk lebih dahulu memahami orang lain ketimbang ingin dirinya difahami. Interaksi intensif akan menjadikannya proses terus menerus yang menuju pada perbaikan inidividu maupun kolektif, meghasilkan cara pandang baru yang secara bersama-sama mendefinisikan dunia melalui kacamata bagaimana menerima kenyataan sebagai pijakan untuk melangkah menuju cita-cita yang tergambar secara jelas.

Jadilah dewasa dan wujudkan
Salah satu pengertian dewasa adalah ketika kita dapat menyeimbangkan antara keberanian dan pertimbangan. Keberanian berhubungan dengan kapasitas diri, logika , analisa, dan kekuatan untuk mewujudkan tujuan. Pertimbangan berhubungan dengan bagaimana memahami lingkungan, baik secara kolektif maupun individu. Keberanian yang membabi buta dapat menyebabkan kerusakan, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Keberanian yang tidak disertai pertimbangan hanya akan memunculkan egoisme dan ke-akuan.
Pertimbangan yang berlebihan akan menhasilkan keragua-raguan, dan membuka peluang untuk memperoleh label 'pengecut'. Pertimbangan saja, tanpa keberanian, dan berlebihan pula membuat waktu dalam mengambil keputusan menjadi lebih lama, sementara dinamika aktivitas sedemikian cepat. Oleh karena itu adalah bijak menyeimbangkan antara keberanian dengan pertimbangan, rajutan mental menuju kedewasaan.
Kedewasaan pula yang dapat membawa kita untuk berdiri memandang segala sesuatu secara keseluruhan sebelum meneliti bagian-bagiannya secara details. Kedewasaan menjadi awal membentuk sinergi, bahwa keseluruhannya lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar