Jumat, 31 Mei 2013

Untuk menambah koleksi cerpen cinta di blog Enetter.blogspot.com ini, berikut kami share lagi sebuah cerita pendek terbaru tentang cinta pertama (first love) dengan judul "Cinta Pertamaku yang Abadi" karangan Erindah Chriestika. 

Selain cerita singkat bertema asmara ini, ada pula puisi cinta, puisi romantisbuat pacar dan kata kata mutiara cinta. Jika anda sedang kasmaran, sangat disarankan untuk dibaca.  :)

Oke bro/sis... Penasaran seperti apa kisah percintaannya? Yuk kita baca bareng-bareng cerpen ini:

cinta pertama

CINTA PERTAMAKU YANG ABADI

Aku melihat matanya, begitu banyak kilauan harapan disana, harapan beribu rasa yang kini aku pendam kepadanya, entahlah, haruskah aku berharap begitu tinggi. Aku tahu diri tentang cinta, dimana aku bahkan terlalu naif untuk menyentuhnya.
Aku terhanyut dalam diam, terhanyut dalam waktu yang kini menghipnotisku…
“mar, bengong aja nih.. kesurupan ya lu?” Simon menghampiri ku, dengan senyumnya yang menusuk ulu hati, oh tidak, aku mungkin berlebihan, tapi itulah kenyataannya.
“sialan… ehh kelas udah sepi banget, kita pulang yuk” ajakku, seketika melihat sekeliling kelas yang kini kosong dan hanya tinggal kita berdua.
“ntar deh, gue nunggu butet” dia tersenyum lagi.
“butet? si liliana natsir maksud lu?” Tanyaku meyakinkan.
“iya, lu tau gak mar?, kemaren dia senyumin gue loh” Ucapnya dengan penuh kegembiraan.

inilah mengapa aku tak pernah berani untuk bermain dengan cinta, dimana cintaku hanya tertuju padanya. Simon, ya, sahabatku sendiri. Aku terlalu naif dengan cinta. Aku tahu begitu sulit mendapatkan cinta simon, oh tidak seharusnya aku mengharapkan itu. Tapi jika dibanding butet, si cewek populer yang selalu dikejar cowok keren, aku bukanlah apa-apa.

“lo pedekate?” Tanyaku berusaha bersikap santai meskipun tertahan rasa sakit.
“yoi, hahaha, gue kemaren jalan sama dia, dan rencananya gue mau nembak dia hari ini” simon menatapku penuh senyum, tatapan yang bahkan siap menghancurkanku.
“eh mon, gue ke toilet dulu yak” aku langsung bergegas ke toilet, mungkin simon akan bingung dengan tingkahku ini.

Aku membasuh wajahku, menatap sekali lagi wajahku didepan cermin. “hai gadis biasa” ucapku pada bayangan cermin diriku sendiri. Aku tersenyum, mungkin ini memang jalan takdirku, mengagumi tanpa dicintai. Aku bergegas kembali ke ruang kelas. Namun, belum sampai aku ke daun pintu aku mendengar suara yang tak asing bagiku.

“kamu mau kan jadi pacar aku tet?” ucap simon dengan lembutnya.
“iya, aku mau mon” butet lalu memeluk simon dengan lembut.
Aku hanya mematung dari luar pintu, melihat semuanya, ya, cukup sudah.
“hmmmmm… kayaknya gue ganggu nih” aku berdehem dengan wajah gembira yang amat sangat dipaksakan.
“selamat ya”
“makasih mar, gue seneng hari ini akhirnya bisa juga kesampean nembak malaikat gue ini” ucap simon sambil menatap lembut butet… haruskah aku mengalami kesakitan ini Tuhan?.
“mar, kita pulang yuk, udah sepi nih sekolah” Ajak butet sambil merangkulku.
“eh ogah amat gue pulang ama kalian berdua, nanti gue jadi obat nyamuk, males ahhh” Bagus, alasanku mungkin kini masuk akal.
“udah sono lo berdua pulang duluan, gue mau ke toko buku dulu” ucapku berbohong.
“benernih mar?, gue kan tadi yang udh nyuruh lo nunggu, masa lo pulang sendiri sih” simon kini melihatku heran, seakan tak mengerti dengan jalan pikiranku.
“udeh gapapa, sono lo berdua pergi… jangan lupa PJ ya!!!”



“jadi si simon udah jadi pacar butet, mar?” Tanya sahabatku nitya, aku memutar tubuh ku menatapnya sembari mengangguk.
“gue gak ngerti betapa sabarnya elo, dan gue juga gak ngerti kenapa simon gak pernah sadar sama perasaan lo” nitya menatapku dengan penuh keheranan.
“mungkin karna gue gak pernah mau nunjukkin perasaan gue nit” aku mencoba tersenyum tulus.
“gue harap simon bakal tau secepatnya perasaan lo mar” Nitya menepuk pundakku, sambil tersenyum tulus.

Siang ini begitu cepat, secepat jam istirahat yang seakan liar memanggil…
“Mar ke kantin yok. !” Ajak nitya yang sedari tadi menunggu ku mencatat sisa pelajaran biologi.
“hmm.. oke, simon mana?” Aku memutar bola mataku mengelilingi kelas, dan tak ku lihat sosok simon.
“tadi dia ke kelas butet dulu katanya” Nitya menyeretku ke kantin tanpa ampun. Tepat disana, mataku tertuju pada objek yang tak asing lagi, dan sangat ku kenal. Simon, dia sedang bersama butet alias liliana yang sekaligus pacarnya. Sejenak Nitya berhenti, dan menatapku penuh arti.
“kita gak jadi ke kantin aja yuk, gue udah gak laper nih.” Ucap Nitya sambil menarik tanganku, sedangkan mataku masih tertuju pada dua orang sejoli yang kini hampir saja meremukkan hatiku, mungkin ini berlebihan, tapi itulah kenyataannya, bahwa semua hal yang didasari dengan cinta kadang dapat menjadi berlebihan.



“pulang sekolah sama siapa mon? lili?” Aku menekan nama ‘lili’ yang biasanya aku panggil ‘butet’.
“tau nih, dia ada perlu katanya, bareng gue yuk mar”
“yakin nih gapapa?, ntar ada yang marah gimana?” Ucapku dengan senyum canda.
“ah elu mar, kayak siapa aja deh, lu kan sahabat gue, tenang aja, si butet mah udah maklum kali” Dia menggandeng tangan ku untuk masuk ke mobilnya, oh ya, ini memang cukup membuat hatiku hampir pecah.

didalam mobil
“mon, gue mau ke mall dulu, si nitya ngajak gue nonton” ucapku singkat setelah membaca pesan dari nitya yang memintaku untuk menemaninya nonton film terbaru di bioskop.
“wah seru tuh, gue juga ikut ahhh”



“mon, elo dong yang ngantri tiket” Nitya menatap rayu pada simon.
“ahelahh kebiasaan yang kayak gini pasti selalu gue” ucap simon sambil berjalan ke loket tiket sambil ngedumel sendiri.
Aku terkekeh melihat Simon dengan tingkahnya yang seperti anak kecil.
“mar, kenapa sih elu gak pernah bilang perasaan lu aja sama simon?” Nitya menatapku penuh arti. Kini bibir ku kelu.
“apa itu harus?, gue gak mau menghancurkan hubungan mereka yang sangat bahagia itu, biarin aja kan, kalo jodoh juga gak kemana” Ucapku dengan senyum yang sangat amat dipaksakan.
“elu gak akan menghancurkan hubungan mereka mar, untuk mencintai seseorang itu wajar, dan lu punya hak untuk menyatakannya, dan simon berhak tau itu, Mar, waktu itu kejam, lebih baik lu nyatain perasaanlu sama dia, sebelum terlambat, yah cuma biar dia tau apa yang lo rasa, selebihnya itu hak dia”
Aku tertegun dengan ucapan Nitya, dan sejenak aku berpikir bahwa ada benarnya juga, yah, aku bisa saja menyatakan perasaan ku pada Simon. Tapi apa aku sanggup jika nantinya persahabatan kami hancur dan dia menjauh?. tidak, aku tidak sanggup untuk itu.



angin membelaiku lembut, rasakan kilauan sensasi imajinasi didalamnya, menyergap masuk ke dalam jiwa, membawaku ke nirwana, merengkuh ku dalam keindahan. Aku terhanyut dalam ketenangan, angin membuat ku tak berdaya meskipun hanya untuk membuka mata… terlalu nyaman… Tenangnya air danau ditengah taman ini menghipnotisku, seakan siap menelanku. Dan kibaran bunga lavender bewarna-warni bagai permadani alam.

“dooor mar!!”
“ih, simon, ngagetin aje lu!” Sergahku pada simon.
dia tersenyum, ya, senyum yang selalu ku cinta, senyum penuh keindahan. Jika aku mati, aku ingin dia tersenyum seperti itu kepadaku.
Simon kini berbaring diatas rumput tepat disebelahku, aku meliriknya sejenak, melihatnya memejamkan mata untuk menikmati hilir mudik angin sore.
“mon, gue boleh ngomong jujur gak?” Aku memejamkan mataku sejenak, mengumpulkan kekuatan yang ada.
simon membuka matanya dan seketika menatap birunya langit yang tak menyilaukan.
“gue sayang sama lo mon” Kataku dengan blak-blakan… disaat itu, aku tak peduli, inilah rasa yang selalu aku simpan padanya, setumpuk rasa yang kini tak ada tempat karna telah terlau banyak.
Simon hanya tersenyum, lalu memejamkan matanya lagi, aku semakin heran, sudahlah, aku tahu siapa diriku, dan siapa aku.

Malam ini aku berdebat dengan fikiranku sendiri.
“iya gue tau, gue juga sayang sama lo mar” aku mencerna kata-kata simon tadi.
Aku tak mau berlebihan dalam menganggap ucapannya. Tidak, aku sahabatnya, dan dia menyayangiku sebagai sahabatnya.
Aku mulai lesu, kutatap wajahku sekali lagi dikaca. “Hai gadis biasa” Ucapku pada bayanganku sendiri di cermin.



Aku tak menyangka, kabar pagi ini, kabar yang begitu menggetkanku sekaligus membuatku lega, entahlah terlalu ambigu.
“katanya si simon udah ngerasa gak cocok sama butet” Ucap Nitya singkat.

Aku menghampiri simon yang sedari tadi termenung di bangkunya. Ku lihat wajahnya yang begitu lesu, aku benci melihatnya seperti itu, aku ingin simon yang biasanya ceria, aku ingin dia kembali, meskipun itu artinya juga menyakitkan bagiku.
“lo bisa cerita kok sama gue” Aku duduk disebelahnya, dia menoleh padaku sejenak, lalu kembali dengan pandangan lurusnya yang lesu.
“gue ngerasa buruk hari ini” Dia tertawa pahit, seakan mengejek dirinya sendiri.
“gue tau, karna lili kan?” Dia menggeleng kuat, lalu menoleh padaku.
“bukan, bukan dia, gue emang gak cocok sama dia, gue sama dia putus baik-baik”
“trus?” Tanyaku yang kini makin penasaran.



Aku merasakan angin semilir di jendela kamar, kupejamkan mataku sesaat, menginat kejadian disekolah tadi, disaat semuanya begitu terasa hancur, berkeping-keping.
“semua karna gue masih cinta sama seseorang, dia first love gue mar, dia selalu menghantui gue, gue cinta sama dia, sejauh apapun gue menghindar dari perasaan ini, gue gak bisa, gue terlalu pengecut buat nyatain cinta gue sama dia, tapi kali ini enggak, gue gak akan ngebiarin waktu buat ngebunuh gue, gue akan nyatain perasaan gue hari ini”

Tepat saat itu, hatiku merasa hancur, entahlah, begitu rapuh kah aku?. Terlalu rapuh, bahkan aku tak bisa berbuat apa-apa. Inikah jawaban dari semua rasaku padanya?. oh bukan, ini bukan jawaban, karna cinta tak pernah memberi pertanyaan.



“Halo nit.. temenin gue yuk!.. hah? gak bisa? oh yaudahdeh, enggak kok gue gak marah, Oke bye” Aku menutup telepon dengan lesu.
Aku benar-benar butuh teman, aku butuh hiburan…



aku menjelajahi kios-kios di mall. Aku pergi ke mall bukanlah karna keinginanku. Aku harus mencari kado untuk sepupu ku yang ulang tahun, tak henti aku melihat pernak-pernik yang meyilaukan mata, menarik perhatian, sampai saatnya aku melihat pemandangan yang tak pernah aku duga.
Hatiku runtuh, bagai gedung yang mendapat gempa bumi terbesar.
aku melihat simon yang sedang tersenyum dan tertawa bahagia dengan Nitya, sungguh ceria. Simon memegang sebuah boneka Panda berwarna ungu, warna kesukaan ku.
Tak terasa, air mataku telah melaju deras, tak peduli jika banyak mata yang akan melihat nya. Aku hancur sekarang.
Aku berlari keluar gedung Mall, tak peduli dengan suara keras Nitya dan Simon yang memanggil namaku.
Aku terus berlari, sampai kulihat cahaya yang menyilaukan mata, membuatku terpejam… dan… semua gelap.



Inilah akhir cintaku, cinta yang kini dibunuh waktu, dipisahkan olehnya.
Aku berniat mengajak Nitya mencari kado untuk Maria pada malam itu, demi melancarkan misiku. Tapi semua berubah menjadi malapetaka. Malapetaka yang kini merenggut kebahagiaanku, cinta pertamaku. Haruskah aku merasakan pahitnya ini maria? Aku kehilangan cinta pertamaku, belahan jiwaku, kebahagiaanku… aku mencintaimu Maria.

“mon, kita pulang yuk, semua orang udah pada pergi” Nitya mengelus pundakku pelan. “ini bukan salah lo mon”
“gak papa nit, gue masih mau disini” ucapku pada nitya. “yaudah kalo gitu”‘.
“Maria, ini surat dari aku buat kamu, aku tahu kamu gak ada disini sekarang, tapi aku harap malaikat menyampaikan isi surat ini untuk kamu disurga… aku terlalu pengecut Maria, maafkan aku.. aku mencintaimu Maria” aku menaruh selembar kertas yang merupakan suratku untuk maria tepat di atas gundukkan tanah itu, menatap tempat itu lekat dengan air mata yang telah tertahan lama, lalu berbalik dan pergi menjauh dari makam Maria.

Dear my first love,
Aku terlalu pengecut untuk menatap indahnya cintamu…
Aku selalu menoleh dan takut bahwa cintaku tak terbalas…
Tapi aku tahu, aku tidak bisa menghindarinya..
Rasa ini selalu menghantuiku..
Aku sadar, ketika melihat matamu, tatapanmu yang penuh keteduhan, aku sadar, engkaulah belahan jiwaku…
Tak pernah aku merasakan cinta yang sangat berarti seperti ini… hanya padamu…
AKU MENCINTAIMU MARIA…
salam sayangku padamu,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar